Kota Satelit Di Luar Pulau Jawa

Arjuna Nusantara

ARJUNA NUSANTARA

Wacana pemindahan ibu kota Indonesia (Jakarta) sudah menjadi bahan perbincangan mulai dari kalangan elit pemerintahan sampai masyarakat awam. Mengingat keadaan Jakarta yang sudah padat penduduk, banyak pihak yang setuju usulan pemindahan ibu kota Indonesia ke daerah lain. Ada beberapa daerah yang diajukan sebagai alternatif, misalnya Jawa Timur atau Pulau Jawa bagian lainnya.

Namun, ide ini ditentang beberapa kalangan. Ini memunculkan usulan lain yaitu Kalimantan.

Pulau Jawa memiliki luas 134.000 Km2 (ada juga sumber yang mengatakan 126.700 Km2). Dihuni oleh sekitar 135 juta jiwa, dengan akumulasi kepadatan 1.000 jiwa per Km2 (ada sumber lain yang mengatakan lebih, tapi tidak jauh berbeda). Kepadatan penduduk yang luar biasa, menyebabkan timbulnya beberapa masalah yang dapat menganggu kelancaran aktivitas pemerintahan. Beberapa masalah itu adalah banjir akibat kurangnya lahan serapan air, menjamurnya anak jalanan, kemacetan panjang setiap hari akibat lemahnya tata kota, serta padatnya penduduk akibat kencangnya laju migrasi ke Jakarta dan sekitarnya.

Pulau Kalimantan diusulkan sebagai ibukota karena dianggap tidak memiliki masalah seperti Pulau Jawa. Lahannya masih luas, penduduknya pun tidak padat. Luas Pulau Kalimantan 743.330 Km2 (termasuk Malaysia dan Brunai Darussalam), Kalimantan (Indonesia) luasnya sekitar 540.000 km2, hanya dihuni oleh sekitar 12 juta jiwa. Jika dibandingkan dengan pulau-pulau lain di Indonesia, Kalimantan adalah pulau paling luas dengan penduduk yang paling sedikit. Kondisi alamnya pun cukup aman. Kalimantan tidak memiliki gunung api aktif.

Memang, selain Kalimantan ada pulau-pulau potnsial lainnya seperti Sumatera, Sulawesi dan Papua.  Namun, secara geografis Sumatera berada di bagian barat, cukup jauh dari jangkauan mereka yang berada di bagian timur. Masalah juga akan sama bila Papua masuk ke dalam daftar. Adalah lebih baik memilih daerah yang berada di tengah, mudah dijangkau oleh mereka yang berdomisili di bagian barat dan timur Indonesia.

Sulawesi bias menjadi alternatif berikutnya. Luasnya sekitar 189.000 km2, penduduknya lebih kurang 15 juta jiwa.  Namun, kerawanan pulau ini terhadap gempa bumi dan tsunami, agaknya juga perlu menjadi perhatian.

Sebenarnya, untuk memecahkan masalah kepadatan ibu kota, ada satu solusi yang mudah dan tidak memakan biaya terlalu banyak. Usulan yang dimaksud adalah pembuatan kota satelit. Kota ini berasal dari daerah-daerah sekitar Jakarta, dikembangkan dengan maksud untuk mengurangi kepadatan ibu kota. Cara mengurangi kepadatan itu dengan memindahkan sebagian industri ke sana. Bila industri pindah, dengan sendirinya para pelaku industry juga akan ikut pindah. Ini akan melegakan Jakarta dari kesesakannya.

Kota satelit tak hanya bisa dibangun di sekitar Jakarta saja. Kota satelit bisa saja disebar ke kota-kota lain yang ada di seluruh penjuru nusantara sesuai potensi daerah masing-masing. Manfaat tindakan ini setidaknya ada dua. Pertama, selain membantu ‘mengosongkan’ sebagian Kota Jakarta, juga membantu pengembangan daerah-daerah lain di Indonesia. Sekarang ini, nyaris semua bentuk industri terletak di Pulau Jawa, khususnya Ibu Kota Negara. Padahal bahan mentah industri itu berasal dari pulau-pulau atau daerah-daerah yang berada di luar Pulau Jawa. Akibatnya harga menjadi mahal, karena tingginya biaya produksi dan distribusi. Jika pusat industri disebar, daerah penghasil bahan mentah, akan mendapatkan keuntungan yang bisa memajukan daerah tersebut. Ini juga akan berdampak terhadap terbukanya lapangan pekerjaan.

Sumbar, adalah salah satu penghasil karet dan kelapa sawit di Indonesia. Jika industri sandal, ban, minyak kelapa, dan industri yang bahan bakunya dari karet dan sawit dibangun di Sumbar, maka petani akan mendapatkan harga jual yang tinggi dari hasil perkebunannya, sebagai dampak positif berkurangnya biaya transportasi ke Jawa. Sumbar pun akan maju pesat dan pengangguran bisa teratasi.

Bukan hal salah kiranya jika Indonesia meniru Amerika dalam menata kotanya. Pusat pemerintahan AS berpusat di Washington DC. Penghuninya hanya 563 ribu jiwa. Untuk pusat bisnis, New York jadi pilihan dengan penduduk 8,1 juta jiwa. Dan  Los Angeles sebagai pusat budaya dengan penduduk 3,9 juta. Kemudian pusat industri otomotif ada di Detroit dengan jumlah penduduk 911.000 jiwa.

Bukan hal mustahil bagi Indonesia untuk menyebarkan pusat industri dan lapangan kerja yang sekarang ada di Jabodetabek ke daerah yang ada di pulau lain sesuai potensinya.  Yang penting ada kemauan. Sebab, tanpa kemauan, masalah se-sepele apapun tetap saja akan terasa berat. Contohnya saja memutuskan hukuman bagi koruptor yang sudah jelas mencuri uang negara.[]

 

 

*Penulis adalah mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang, reporter Suarakampus.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.